
Ekonomi biru semakin berkembang sebagai salah satu ruang strategis bagi inovasi masa depan, seiring dengan peran laut dalam mitigasi perubahan iklim, pengembangan energi terbarukan, pelestarian keanekaragaman hayati, serta penguatan sistem pangan perairan.
Posisi Indonesia sebagai negara kepulauan dengan potensi sumber daya laut yang besar menjadikan sektor ini tidak hanya relevan secara ekologis, tetapi juga krusial dalam mendukung pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan dan inklusif.
Dalam beberapa tahun terakhir, berbagai capaian dan inisiatif nasional menunjukkan adanya pergeseran menuju pengembangan ekonomi biru yang berbasis data dan kolaborasi lintas sektor.
Penandatanganan Memorandum of Understanding (MoU) Indonesia–Tiongkok pada tahun 2024 tentang penguatan kerja sama ekonomi biru, serta pelaksanaan program seperti Blue Food Assessment (BFA) dan Indonesia Blue Economy Index (IBEI), menandai komitmen pemerintah dalam mendorong pengelolaan sektor kelautan dan perikanan yang lebih terukur, terintegrasi, dan berorientasi pada keberlanjutan.
Pada 2 Februari 2026, Divers Clean Action sebagai Hub Indonesia dari Sustainable Ocean Alliance menyelenggarakan lokakarya (workshop) yang membahas pentingnya memahami perkembangan blue economy atau ekonomi biru di Indonesia.
Berlokasi di MULA by Galeria Jakarta, kegiatan ini dihadiri lebih dari 20 partisipan yang mayoritas berasal dari kalangan anak muda, termasuk mahasiswa dari berbagai universitas.
Berlangsung selama dua jam, seminar dibuka oleh Kristi Tanjung selaku Engagement and Sustainability Manager Divers Clean Action. Selain memperkenalkan Divers Clean Action, Kristi juga menjelaskan bagaimana Sustainable Ocean Alliance telah memberikan ruang dan dukungan bagi terselenggaranya berbagai kegiatan penguatan kapasitas anak muda dalam beberapa tahun terakhir.
Memahami Konsep dan Kebijakan Ekonomi Biru
Sesi materi pertama dibawakan oleh Derry Wanta, seorang Blue Finance Enthusiast sekaligus dosen Universitas Darma Persada. Dalam paparannya, Derry membahas konsep, kebijakan, serta tantangan implementasi ekonomi biru di Indonesia.
Ia menekankan bahwa ekonomi biru dapat menjadi sumber pertumbuhan baru melalui pendekatan berbasis pengetahuan untuk menciptakan kemakmuran sosial-ekonomi, menjaga kesehatan ekosistem laut, serta memperkuat ketahanan bagi generasi saat ini dan mendatang.
Ia juga memaparkan beberapa arah kebijakan dalam Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional (RPJPN) 2024–2045, antara lain:
Di akhir sesi, Derry mendorong partisipan untuk mulai mengambil inisiatif konkret dalam mendukung pengembangan ekonomi biru, seperti membentuk forum anak muda atau mengikuti program peningkatan kapasitas pengelolaan kawasan konservasi perairan.
Praktik Lapangan dan Kolaborasi Komunitas Bahari
Sesi materi kedua disampaikan oleh Aishah Gray, Founder Bluemeet dan Marine Actions Expo (MAX). Sebagai instruktur selam dan pegiat konservasi, Aishah membagikan pengalaman lapangannya dalam mengidentifikasi potensi ekonomi biru di Indonesia.
Ia menyoroti bahwa Indonesia merupakan salah satu produsen tuna terbesar di dunia, yang potensinya masih dapat dikelola secara lebih optimal untuk memperkuat kemandirian dan nilai tambah dalam negeri.
Aishah juga menjelaskan bagaimana hobi menyelam membawanya lebih dalam ke dunia konservasi dan mempertemukannya dengan berbagai kelompok masyarakat bahari yang memiliki tantangan ekonomi masing-masing.
Hal tersebut mendorongnya untuk membangun ruang kolaborasi lintas komunitas, mulai dari mermaid community, freedivers, pemilik kapal (boat owners), komunitas sport fishing, seniman laut (ocean artists), hingga UMKM bahari lewat Marine Actions Expo (MAX).
Kolaborasi tersebut menjadi fondasi dalam membangun ekosistem yang lebih besar untuk memajukan wisata bahari Indonesia secara menyeluruh dan berkelanjutan.
Sesi Focus Group Discussion
Seminar dilanjutkan dengan sesi Focus Group Discussion (FGD) yang membagi partisipan ke dalam kelompok-kelompok kecil untuk berdiskusi langsung bersama para pemateri. Dalam sesi ini, partisipan tidak hanya memberikan umpan balik, tetapi juga diajak untuk merumuskan rencana aksi dan mengembangkan ide-ide konkret.
Selama kurang lebih 45 menit, berbagai gagasan muncul, mulai dari pembentukan forum mahasiswa yang fokus membahas ekonomi biru hingga pengembangan penelitian dalam lingkup akademik. Diskusi ini membuka perspektif baru sekaligus mendorong kolaborasi antar peserta.
Melalui sesi ini, kegiatan tidak hanya menjadi ruang transfer ilmu satu arah, tetapi juga wadah berbagi pengalaman dan membangun kesadaran bersama mengenai potensi ekonomi biru yang dapat dikembangkan mulai dari lingkungan terdekat.
Para partisipan pun terdorong untuk menjajaki peluang kolaborasi lanjutan demi mendukung keberlanjutan sektor ekonomi biru di Indonesia.
Penulis: Haneeza Afra