News & Updates
News & Updates / Updates / Dari Jaring Bekas Menjadi Peluang: Pengelolaan Limbah Jaring di Kalibaru bersama Pelindo
Dari Jaring Bekas Menjadi Peluang: Pengelolaan Limbah Jaring di Kalibaru bersama Pelindo
DCA

Di pesisir Kalibaru, Jakarta Utara, jaring ikan adalah bagian penting dari kehidupan sehari-hari. Bagi nelayan, jaring menjadi alat utama untuk mencari nafkah. Namun ketika rusak, hilang, atau tidak lagi digunakan, jaring tersebut dapat berubah menjadi persoalan lingkungan sekaligus ekonomi.

 

Abandoned, Lost, and Discarded Fishing Gear (ALDFG) atau alat tangkap ikan yang hilang, terbengkalai, atau dibuang merupakan salah satu ancaman bagi ekosistem laut. Jaring yang tidak terkelola dapat terus berada di lingkungan, mengancam biota laut, mengganggu habitat, serta menimbulkan risiko bagi aktivitas nelayan.

 

Riset Divers Clean Action pada 2024 yang menjadi dasar program di Kalibaru menunjukkan bahwa persoalan ini dirasakan langsung oleh masyarakat pesisir. Sebanyak 72% nelayan yang disurvei pernah mengalami gangguan operasional akibat alat tangkap yang tersangkut atau hilang, termasuk kerusakan pada baling-baling dan mesin kapal. Kerugian yang dialami dapat berkisar dari ratusan ribu hingga puluhan juta rupiah per tahun. Di sisi lain, baru 42% nelayan yang mengenal konsep ALDFG.

 

Kegiatan pengangkutan limbah jaring oleh kelompok nelayan di Kalibaru.

Untuk menjawab kebutuhan tersebut, Divers Clean Action menjalankan Program Pengolahan Limbah Jaring di Pesisir Kalibaru, Jakarta Utara, berkolaborasi dengan Parongpong RAW Lab dan didukung oleh PT Pelabuhan Indonesia (Persero) atau Pelindo. 

 

Program berlangsung pada November 2024 hingga November 2025 dengan tujuan mengembangkan Kalibaru sebagai model pengelolaan limbah jaring yang efektif dan dapat dipelajari untuk konteks wilayah pesisir lainnya.

 

Pendekatan program tidak berhenti pada pengumpulan limbah. Program dirancang untuk memperkuat rantai nilai pengelolaan jaring bekas, seperti:

  • Meningkatkan pengetahuan masyarakat mengenai dampak lingkungan dan ekonomi ALDFG.
  • Memperkuat peran bank sampah, menghubungkan pengumpulan dengan proses daur ulang.
  • Membuka peluang agar material yang sebelumnya menjadi limbah dapat kembali memiliki nilai.

 

 

Memperkuat Bank Sampah sebagai Penggerak Perubahan

Para anggota bank sampah mendampingi penimbangan limbah jaring.

Pada periode Maret hingga Mei 2025, salah satu fokus program adalah memperkuat kapasitas anggota bank sampah dan membangun keterlibatan masyarakat secara bertahap.

 

Pada 14 Maret 2025, program menyelenggarakan sesi edukasi yang diikuti 26 peserta, terdiri dari nelayan, anggota bank sampah, dan pemangku kepentingan RW 06. Materi membahas dampak lingkungan dari limbah jaring, potensi pengolahannya menjadi produk bernilai ekonomi, hingga strategi pengelolaan keuangan yang berkelanjutan.

 

Bank sampah diposisikan bukan sekadar sebagai titik pengumpulan, tetapi juga sebagai penghubung antara nelayan, keluarga, dan sistem pengolahan. Dengan pendekatan ini, kapasitas lokal diperkuat agar perubahan dapat tumbuh dari dalam komunitas sendiri.

 

Peran tersebut terlihat dalam kegiatan edukasi dan dialog bersama nelayan pada 5 Mei 2025. Sebanyak 30 peserta hadir, terdiri dari 24 laki-laki dan 6 perempuan. Setelah diskusi, para nelayan menyepakati untuk mulai mengumpulkan dan menyerahkan jaring bekas ke Bank Sampah RW 06.

 

Dialog tersebut juga menghasilkan masukan penting. Nelayan berharap bank sampah dapat menerima lebih banyak jenis jaring. Saat ini, jalur pengolahan yang tersedia baru dapat menerima jenis jaring rampus tertentu karena keterbatasan offtaker untuk material jaring lainnya. 

 

Tantangan ini menjadi pembelajaran penting, yakni sistem pengumpulan hanya dapat bertahan jika terhubung dengan teknologi pengolahan dan pasar yang mampu menyerap beragam material.


Penulis: Haneeeza Afra

Share

Date Created

10 July 2025

Original Source

Copyright © 2021 Divers Clean Action | All Rights Reserved